KENANGAN BERSAMA IBU THERESIA SABINA TIFA

Jumat, 7 Februari 2020. Pagi hari Jumat, sekitar pukul 07.05 beliau tiba di sekolah, langsung menuju ruang Tata Usaha untuk menandatangani daftar manual di samping mesin finger. Beliau dengan lembutnya menyapa Kepala Sekolah yang pada saat itu sedang berdiri di depan kantor. Beliau terlihat segar dan raut mukanya terlihat bahagia. Lalu tidak banyak bicara melangkahkan kaki menuju ruang guru.

Seperti biasanya hari Jumat, sebelum pelajaran berlangsung didahului dengan sholat dhuha bagi siswa – siswi beragama Islam, dan doa pagi bagi siswa Katholik dan Protestan. Ibu Thres bergabung dengan guru dan siswa Katholik melaksanakan kegiatan doa pagi Jumat di ruang kelas X IPA, yang merupakan ruang doa bagi siswa-siswi dan guru beragama Katholik.

Setelah kegiatan sholat dhuha dan doa pagi berakhir, dan pelajaranpun dimulai, Ibu Thres menuju ruang kelas X IPS B untuk melaksanakan Proses Belajar Mengajar, karena hari itu jam 1 hingga jam ke 3, beliau mengajar matematika wajib di kelas tersebut,

Tidak seperti biasanya, hari itu Ibu Tres bersuara sangat keras dan terkesan sedikit emosional menghadapi anak laki-laki di dalam kelas X IPS B yang terkesan sedikit agak nakal dan acuh tak acuh.

Ibu Theresia Sabina Tifa, sering disapa Ibu Thres, dikenal seorang yang sangat lembut dan tak pernah bersuara keras, sehingga siswa-siswi memanggilnya dengan sebutan Bunda Theresia, mengingatkan penulis pada sosok Bunda Theresa yang sangat santun dan bersahaja. Kepala Sekolah kadang memanggil Ibu Thres dengan panggilan Ibu Bina.

Saat sekolah usai, semua guru biasanya kembali ke ruang Tata Usaha untuk menandatangani daftar hadir pada kolom pulang, sekaligus mengisi daftar pulang di mesin finger. Ibu Thres keluar dari ruang Tata Usaha dan saat itu Kepala Sekolah berdiri di depan Ruang Tata Usaha. Terlibat percakapan antara pimpinan dan guru. kepala Sekolah mengatakan, Ibu Thres, kamu hari ini kok cantik sekali. Ibu Threspun menjawab, Thres gitu loh.
Sesudah itu, sekolah kembali sepi dan semua warga sekolah harus kembali ke rumah masing-masing.

Malam itu, sekitar pukul 21.00 WITA, mendengar khabar yang tak disangka-sangka, dari tamatan / mantan siswa SMA Islam Muthmainnah Ende yang dulunya pernah mendapat bimbingan dan asuhan Ibu Thres, menyampaikan bahwa Ibu Thres dalam kondisi kritis antara hidup dan mati di ruang ICU RSUD Ende.

Antara percaya dan tidak percaya, lalu menelepon guru Agama Islam, Ibu Siti Hajar Arsyad, dan guru Bahasa Indonesia, bapak Muhammad Arifin, untuk mengecek ke ruang ICU RSUD Ende, apakah benar berita ini. Tidak sampai berselang lima menit, kembali dikhabari oleh mantan siswa tersebut, bahwa Ibu Theresia Sabina Tifa, sudah menghembuskan nafas terakhir, dan hal itupun dibenarkan oleh kedua guru yang ditugaskan ke rumah sakit tadi.

Theresia Sabina Tifa, S.Pd, nama lengkapnya. Beliau terlahir di Koponio Nuabosi, pada tanggal 05 November 1975. Mengawali kariernya sebagai guru dengan menjadi tenaga sukarela/honorer di SMA Islam Muthmainnah Ende tahun 1999, hingga kemudian diangkat menjadi PNS pada tahun 2005, dan tetap ditempatkan di SMA Islam Muthmainnah Ende.

Keseharian beiau, dikenal sebagai seorang guru yang lembut, tidak pernah bersuara keras, periang, suka tersenyum, dan sangat humoris. Sehingga kematiannya yang tiba-tiba membuat semua orang sangat merasa kehilangan, baik teman-teman guru, pegawai maupun siswa-siswi dan para alumnus.

Hari Sabtu tanggal 08 Februari 2020, dilakukan upacara pelepasan jenazah secara kedinasan dipimpin oleh Ketua MKKS SMA/MA/SMAK se-Kabupaten Ende, Bapak Yohanes Albinus Minggu, S.Pd. Turut hadir pada kesempatan itu, Bapak Ketua Yayasan Pendidikan Islam Muthmainnah Ende, Bapak Arif Rahman Hakim, S,Pd, Kepala SMA Negeri 2 Ende, Bapak Amedeus Rodriques Sawu, M.Pd, Kepala SMA Islam Muthmainnah Ende, Bapak Lukman Pua Rangga, S.Pd, utusan Kepala SMA Muhammadiyah Ende, dan para guru, pegawai, siswa-siswi SMA Islam Muthmainnah Ende.

Pemakaman almarhumah dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 09 Februari 2020, di Nangaroro Kabupaten Nagekeo, Kampung suaminya, didahului ibadah Misa Requim yang dipimpin oleh Imam Katholik dan dihadiri oleh masyarakat, handai taulan, karib kerabat, teman dan rekan kerja, serta para siswa SMA Islam Muthmainnah Ende.

Dalam sambutan mewakili lembaga, Kepala SMA Islam Muthmainnah Ende, menyatakan bahwa lembaga yang dipimpinnya sangat merasa kehilangan sosok guru yang lembut, periang, pekerja keras, dan sangat taat pada aturan.

Sementara itu, dalam sambutan mewakili keluarga, Bapak Thomas Tiba Owa mengucapkan terima kasih atas ucapan bela sungkawa dan doa dari keluarga jauh dekat, handai taulan, pihak sekolah dan siswa-siswi dan berbagai pihak. Selain itu
Bapak Thomas Tiba Owa mewakili keluarga meminta maaf bila semasa hidup ada kesalahan yang dibuat almarhumah.

Lanjut beliau, keluarga minta doa dari keluarga jauh dekat, handai taulan, pihak sekolah dan siswa-siswi dan berbagai pihak dan beliau mohon semua kesalahannya (Ibu Thres), ucapan beliau, langkah beliau yang tidak berkenan di hati, kiranya dapat dimaafkan.

Sebelum liang lahat ditutup, terlebih dahulu dilakukan peletakan karangan bunga oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur yang diwakili Kepala SMA Islam Muthmainnah, Ketua Yayasan Pendidikan Islam Muthmainnah Ende, Kepala SMA Islam Muthmainnah Ende, Kepala SMP Islam Muthmainnah Ende, dan perwakilan OSIS.

SELAMAT JALAN IBU THRES, JASA DAN PENGABDIANMU DALAM MEMBANGUN SMA ISLAM MUTHMAINNAH ENDE, AKAN KAMI KENANG DAN AKAN KAMI UKIR DI DALAM HATI SANUBARI KAMI. SAYONARA IBU THRES.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »