SMA SWASTA ISLAM MUTHMAINNAH ENDE MELAKSANAKAN UPACARA PERINGATAN HARI KESAKTIAN PANCASILA TANGGAL 1 OKTOBER 2018

Kepala SMA Swasta Islam Muthmainnah Ende, Lukman Pua Rangga  menjadi Inspektur Upacara peringatan Hari  Kesaktian Pancasila (HAPSAK) tingkat sekolah. Upacara tersebut digelar di halaman upacara SMA Swasta Islam Muthmainnah Ende yang diikuti oleh  seluruh guru, pegawai dan siswa-siswi SMA Swasta Islam Muthmainnah Ende.

Dari pantauan tim berita Sumur ( Suara Muthmainnah Remaja ), Upacara dimulai pada pukul 07.15 WIB diikuti dengan khidmat mulai dari pengibaran Bendera Merah Putih sampai akhir sambutan Kepala Sekolah.

Dalam amanatnya Lukman mengatakan Tanggal 1 Oktober  telah ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Ditetapkan tanggal tersebut karena ada persitiwa tragis yang menimpa bangsa ini yang menjadi latarnya. Sebagai bangsa yang besar, kita harus tahu sejarah kehidupan bangsa ini, bahwasanya  Hari Kesaktian Pancasila  / Hari Pancasila selalu di peringati pada tanggal 1 Oktober. Sejarah hari Kesaktian Pancasila tidak bisa dilepaskan dari terjadinya peristiwa pemberontakan G30S/PKI yang  didalangi oleh PKI (Partai Komunis Indonesia).

Gerakan G30S/PKI sendiri terjadi pada tanggal 30-September-1965 tepatnya saat malam hari. Insiden G30S/PKI merupakan ulah PKI yang bertujuan untuk mengubah unsur Pancasila menjadi ideologi komunis.Gerakan ini dilakukan oleh sekelompok pasukan yang diketahui sebagai pasukan Cakrabirawa, yaitu pasukan pengawal presiden yang melakukan aksi pembunuhan dan penculikan kepada Enam (6) jenderal senior TNI AD (Angkatan Darat).Tiga Jenderal yaitu: MT Haryono, Ahmad Yani dan DI Panjaitan tewas di tempat. Sedangkan Tiga Jenderal lainnya Sutoyo Siswomiharjo, Soeprapto dan S. Parman di bawa oleh para pemberontak dalam kondisi hidup.Salah satu jenderal yang menjadi sasaran utama pemberontak (PKI) adalah jenderal TNI Abdul Haris Nasution (AH Nasution), namun beliau dapat selamat dari peristiwa maut tersebut. Tetapi putri dari sang jenderal Ade Irma Suryani serta Ajudan sang jenderal (Pierre Tendean) harus rela menjadi korban dan tewas atas kebiadaban PKI.

Lanjut Lukman, bahwa para jenderal yang dibawa dalam kondisi hidup (Sutoyo Siswomiharjo, Soeprapto dan S. Parman) kemudian mengalami penyiksaan yang tidak manusiawi. Mereka disiksa secara biadab seakan mereka bukan manusia. Dan setelah para jenderal ini gugur jasad mereka kemudian dibuang oleh PKI ke dalam sebuah lubang yang kemudian di kenal dengan sebutan Lubang Buaya, kemudian setelah itu bagian atas lubang buaya mereka tutupi dengan pohon pisang.Setelah para Jenderal dibunuh, Letkol Untung yang merupakan salah satu bagian dari pemberontak (PKI) melalui RRI mengumumkan terbentuknya ‘Dewan Revolusi‘ dan mengumumkan telah berhasil menghentikan upaya ‘Dewan Jenderal‘ yang disematkan pada jenderal TNI Angkatan Darat yang mau melakukan kudeta terhadap pemerintah di bawah pimpinan Presiden RI/ Paduka Yang Mulia Presiden Soekarno.

Mayor Jendral Soeharto (Mantan Presiden) yang saat itu menjabat seorang jenderal namanya tidak tercantum dalam daftar tokoh yang harus dimusnahkan oleh pemberontak PKI. Sehingga Soeharto mendapatkan kesempatan untuk memegang kendali komando dan membuat beberapa kebijakan strategi penting yang kemudian berhasil merebut kembali Jakarta dari genggaman pemberontak (PKI) Dalam tempo sehari, sehingga upaya pembentukan ‘Dewan Revolusi’ yang dilakukan oleh PKI dapat digagalkan.

Setelah itu pada tanggal 1-Oktober-1965 tepatnya pada pukul 20.15 WIB, Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat melalui RRI (Radio Republik Indonesia) memberitahukan bahwa telah terjadi gerakan Kontra Revolusi yang berhasil menculik 6 jenderal senior Angkatan Darat (TNI AD). namun situasi dapat dikuasai kembali oleh pimpinan Angkatan Darat yang kala itu berada di tangan Mayor Jendral Soeharto, dan kemudian Tepat pada jam 21.00 WIB  (9 malam) pada 1-Oktober-1965 pemerintah lewat Mayor Jendral Soeharto mengumumkan PKI di Indonesia berhasil ditumpas.

Dan akhirnya sejarah tanggal 1 Oktober di kenang sebagai Hari Kesaktian Pancasila, dan untuk mengenang 7 jenderal yang menjadi korban keganasan PKI pemerintah membangun Monumen Pancasila Sakti. Dan tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila yang kita peringati sampai dengan hari ini.

Dalam memperingati Hari Kesaktian Pancasila tahun 2018 ini kita mengambil tema “PANCASILA SEBAGAI LANDASAN KERJA MENCAPAI PRESTASI BANGSA””. Sesuai dengan tema tersebut, marilah kita jadikan peringatan kali ini sebagai momentum untuk membangun bangsa dan negara yang kita cintai ini, dibutuhkan kerja keras bersama berlandaskan Pancasila. Pancasila adalah sumber nilai jati diri bangsa sekaligus fondasi negara kita. Sebagai falsafah negara, Pancasila menjadi acuan kita dalam mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera.

Lanjut beliau, Kita tahu bersama, bahwa Pancasila adalah PEREKAT BANGSA.Pancasila sangat menghormati dan menghargai kebhinekaan.Di dalamnya penuh dengan ajaran-ajaran kebaikan.Oleh karena itu, kita harus bersyukur memiliki falsafah hidup negara kit Pancasila dan kita harus terus memperkuat Pancasila yang telah menunjukkan dan memungkinkan kita untuk hidup berdampingan secara damai, harmonis dan penuh toleransi dengan siapa saja yang berbeda latar belakang agama, suku, ras, adat istiadat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.Sekaligus, kita harus mengikis benih dan tumbuhnya nilai-faham radikalisme dan sejenisnya di Indonesia.

Kita juga harus mawas diri, jangan sampai ada tunas-tunas dan ajaran-ajaran baru PKI bermunculan di NKRI yang kita cintai ini.Jikalau ada, segera kita musnahkan, jangan berikan kesempatan sedetikpun untuk muncul dan berkembang di negeri ini yang kemudian akan merucuni pikiran dan jalan hidup generasi muda ahrapan bangsa.

Dalam upacara tersebut, kelompok Paduan Suara SMA Swasta Islam Muthmainnah Ende  yang dipimpin oleh Ibu Mathilde Tawa, menyanyikan Lagu Indonesia Raya pada saat bendera merah putih dikibarkan dan juga menyanyikan lagu Mengheningkan Cipta saat Mengheningkan Cipta berlangsung. Lagu penutup yang dinyanyikan oleh kelompok paduan suara adalah lagu “Gugur Bunga dan Indonesia Pusaka” karya Ismail Marzuki.

Upacara berlangsung aman lancar dan tertib. Yang  menjadi Pemimpin Upacara adalah Muhammad Azman, siswa kelas XI IPS B, yang juga merupakan Pengurus OSIS dan Dewan Ambalan H.M. Soeharto SMA Islam Muthmainnah Ende.  Petugas Pengibar Bendera, masing-masing adalah  Nasrul Wahab, Fazal Dath, dan  Nur Safaratul Aulia ( Kelas XI IPA ). Pembaca UUD 1945, Dita Aulia , pembaca naskah ikrar Ainun Zahriyah dan pembaca doa  Warni Tiasa ( Siswa Kelas XI IPA ). Sedangkan  protokol dan dirigen masing-masing adalah Sulistiawati  ( Siswa Kelas XI IPA) dan Maria Ma ( Kelas XII IPA). (@2018sumur).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »